Big Bang


Waktu kecil aku suka menggambar. Yah, di dunia ini anak kecil mana sih yang tidak suka menggambar? Aku juga pernah menjadi anak kecil biasa yang suka juga menggambar, mulai dari benang ruwet, bentuk kotak-bulat tidak jelas yang diniatkan sebagai gambar manusia, dan tentu saja gambar pemandangan berupa dua buah gunung dengan matahari di tengah celahnya dan sawah serta jalan raya yang sama sekali tidak punya perspektif jauh-dekat.
Sewaktu belum sekolah, aku menggambar dengan media kapur dan lantai teras rumah kakekku. Objek kesukaanku adalah gadis cantik berponi yang entah terinspirasi dari mana. Barangkali dari anime-anime Jepang seperti Sailormoon dan sebangsanya. Setelah masuk sekolah, aku punya buku dan pensil untuk menggambar macam-macam bentuk yang kusukai. Di Sekolah Dasar, gambar favoritku adalah Mickey Mouse. Bisa dipastikan di sampul belakang buku tulisku akan ada gambar tikus ini, meskipun kebanyakan hanya kepalanya saja (hehehe). Aku juga punya sebuah buku gambar kesayangan berisi gambar-gambarku yang kuwarnai dengan krayon. Gambar-gambar itu kebanyakan kucontoh dari gambar-gambar yang kulihat di buku cerita atau di majalah adikku. Entah bagaimana ceritanya, waktu kecil aku cukup percaya ketika ada yang berkata padaku, “Gambarmu bagus.” Dan sekarang rasanya lucu sekali jika mengingat dulu aku pernah mendapat nilai 9 dari guruku dalam pelajaran menggambar. Aku tidak ingat itu kelas berapa. Tapi nilai 9 untuk sebuah gambar??? Jelas sifat polosku sebagai anak-anak menggiringku pada pikiran bahwa gambarku memang lumayan bagus. Pak Guruku memang baik, tapi pikiran itu jelas-jelas sebuah pikiran sesat. Semakin dewasa, aku semakin sadar bahwa aku sama sekali tidak berbakat dalam menggambar atau melukis atau seni rupa apapun.
Selama sekolah menengah, aku selalu tersiksa dengan tugas gambar-menggambar, gambar apapun itu: sebuah kendi, pola batik, bungkus detergen, pohon, wajah manusia, bunga, pemandangan, bahkan gambar abstrak sekalipun. Aku bisa mengatakan bahwa gambarku selalu masuk kategori “menyedihkan” meskipun barangkali dalam seni tidak ada salah dan benar seperti dalam eksak.
Untuk tugas kerajinan tangan, tidak usah ditanyakan lagi. Waktu pameran kelas 3 SMP, aku hampir-hampir tidak tega untuk mengikutsertakan karyaku. Sungguh asal-asalan dan tidak sebanding dengan karya teman-temanku yang dibuat sepenuh hati dan jiwa raga, meskipun untuk membuat karya itu aku sudah bertapa tujuh hari tujuh malam dalam rangka mencari inspirasi :p. Aku memang bukan orang yang kreatif dan telaten untuk membuat barang-barang kecil macam hasta karya yang membutuhkan kesabaran dan perasaan yang halus (sok tau). Aku ingin yang mudah dan cepat selesai, meskipun endingnya sama juga: aku malu karena hasil karyaku sama sekali tidak istimewa, kalau tidak tega dibilang menyedihkan.
Dan kabar baiknya adalah: tugas akhir untuk Ujian Seni Rupa di SMA à melukis.
Ya, melukis dengan kuas dan cat (entah apa).
Aku tidak ingat bagaimana aku mencari ide untuk lukisanku. Seperti biasa, aku ingin lukisan itu selesai dengan cepat, karena itu aku memutuskan untuk menggambar objek yang tidak rumit dan sederhana saja. Aku tidak punya ide lain. Aku melukis di rumah disaksikan Ibuku tercinta. Lukisan itu pun selesai dalam waktu kurang dari setengah hari.
Dan inilah hasilnya.

Kalian bisa menebak gambar apa itu? Sebuah lukisan abstrak? Kobaran api? Meteor? Bunga???
Awalnya aku sendiri bingung apakah gambar ini dilihat dengan posisi berdiri atau rebah. Tapi karena bapak-bapak tukang pigura memasang gantungan dalam posisi berdiri, jadi ya sudahlah, lukisan itu dipasang dengan posisi seperti itu.
Waktu hari pameran, seperti yang sudah-sudah, aku minder dengan karyaku sendiri. Semua orang terkesan sangat niat melukis kecuali aku. Ada yang melukis bunga, manusia, pemandangan, dan objek lain yang tentunya lebih jelas daripada gambarku. Aku menyesal kenapa tidak terpikir olehku untuk melukis lambang Barcelona (beberapa teman cowok kelas sebelah melukis lambang klub bola favorit mereka, macam Liverpool dan AC Milan). Tapi, ya sudahlah, bubur tidak bisa kembali menjadi nasi.
Lukisan itu kemudian sempat “hilang” setelah pameran. Sampai lulus SMA aku tidak berhasil menemukan lukisan itu untuk dibawa pulang. Ibuku ribut dan menyuruhku mencarinya. Bukan karena lukisanku bagus, tapi karena menurut Ibu, “Eman-eman to, mbayar pigurane larang (Sayang dong, mbayar piguranya mahal).”  Waktu itu kami harus membayar Rp 40.000,00 untuk memasang pigura. Baiklah, Ibu sangat realistis karena menyayangkan pigura mahal itu, bukan lukisan hasil karyaku ^o^.
Do’a Ibu akhirnya dikabulkan Tuhan.
Suatu ketika saat sudah kuliah, sehabis mengikuti rapat alumni, aku mengelilingi kelas dan melihat lukisan itu tergantung di dinding bekas kelasku. Dengan pede yang luar biasa diiringi keyakinan akan do’a ibu, kuambil lukisan itu dan kubawa pulang. Kelas sudah kosong karena sudah bukan jam sekolah, atau karena memang hari libur, aku lupa. Rasanya sungguh seperti mencuri barang milik sendiri. Maaf ya, adik-adik IPA 2, sebenarnya kakak ingin lukisan itu menemani hari-hari kalian di kelas dan menjadi saksi atas keceriaan masa putih abu-abu kalian di IPA 2. Lukisan itu mungkin saja bisa memberi inspirasi ketika kalian suntuk dengan tetek bengek hitungan integral, nama-nama senyawa kimia, reaksi kimia fotosintesis, atau perintah untuk menghitung berapa lama waktu yang diperlukan batu yang dijatuhkan dari atas gedung untuk menyentuh tanah (siapa yang peduli batu itu akan jatuh sepuluh detik atau sepuluh jam????). Tapi lukisan itu harus kakak ambil kembali demi menuruti keinginan Ibu  ^_^
Begitu sang lukisan absurd tiba di rumah, Ibu memutuskan untuk memasangnya di ruang tamu. Beberapa kali aku protes dan memindahkannya ke dalam, tapi setiap kali pulang dari Semarang lukisan itu sudah kembali tergantung manis di dinding ruang tamu. Aku menyerah. Kubiarkan Ibu melaksanakan keinginannya. Jadi, kawan, kalau kau datang ke rumahku dan melihat ke tembok sebelah barat, kau akan melihat si lukisan absurd itu nampang dengan anehnya di dinding ruang tamu yang sekarang dicat warna kuning agak oranye (jadi kuning apa oranye?? Aku tidak tahu pasti).


Kebanyakan teman tidak memperhatikan keberadaannya, atau mungkin hanya membatin dalam hati: “Gambar apaan tuh?” Beberapa teman bertanya apakah aku yang melukisnya (iya, aku si pelukis geje!!!) Tapi komentar paling sensasional datang dari Pakdheku yang merupakan suami dari kakak ibuku, “Tri, kamu nglukis hari kiamat?” WHAT??? Dari sudut manakah bapak ini melihat kesan hari kiamat dalam lukisanku? Tapi biarlah, setiap pengamat berhak punya interpretasi sendiri (sok bijak). Komentar sensasional kedua yang baru pertama kalinya kudengar muncul pada suatu hari ketika seorang bermata bulan sabit mengamati lukisan itu dan dengan tampang serius berkata:
“Keren lho.”
WHAT??? Keren??? Keren dari mananya???
“Enggak, beneran, itu keren lho,” katanya.
Aku tertawa. Entahlah, mungkin pendapatnya itu didorong oleh perasaan ingin menghiburku atau karena terpengaruh oleh matanya yang sipit sehingga tidak bisa melihat lukisan itu dengan jelas (piss....hehehhe). Yang pasti, seingatku, dia orang pertama yang mengatakan si lukisan absurd itu keren (aku sendiri tidak pernah mengakuinya).
Jadi, kuceritakan padanya peristiwa yang terjadi dua tahun lalu ketika Guru Kesenianku bertanya lukisan tentang apa itu, pada hari ujian akhir kesenian. Dengan penuh keyakinan aku menjawab, “ Big Bang, Pak. Salah satu teori terbentuknya alam semesta.” Sungguh, aku tidak ingat bagaimana ekspresi Pak Tusino, guruku ketika itu. Barangkali beliau hanya membatin, “Wah, anak IPA memang memiliki daya imajinasi yang liar dan tidak terbatas!!!!!!!!!!”
Hahahaha J


Kebumen, 19 Agustus 2012: 18.16’
Big thanks and lots of luv buat kakak baik hati
yang udah bilang lukisan absurdku keren ^^

Comments

Popular Posts