Tujuh Hari Keenam: Sedikit Santai

image from: http://static.panoramio.com/photos/large/11961843.jpg
Senin pagi diawali dengan sedikit ketegangan karena saya ditugasi memasak nasi (iya, kalau kau pernah punya pekerjaan sama seperti saya, saya pikir kau tidak heran ada acara masak-memasak di tempat kerja). Kepala Sekolah membawa tongseng kambing dari acara akikahan cucunya dan saya (dengan dada deg-degan) memasak 1,5 kilogram beras. Meskipun saya memang belum bisa masak, tapi saya setidaknya saya sudah biasa masak nasi. Hanya saja karena ini untuk orang lain, saya jadi cemas pada hasilnya (seperti biasa, saya mendramatisir). Alkhamdulillah tidak ada yang gosong, tidak terlalu keras atau lembek dan semua orang yang memakannya bisa pulang dengan keadaan sehat walafiat. Senin siang itu dilanjutkan dengan mengunjungi rumah Kepala Sekolah untuk menengok si bayi yang baru saja diakikahi itu (dengan sedikit acara tersesat karena saya dan dua orang teman ketinggalan rombongan).

Hari itu Kelas VI tengah mengikuti try out ujian kabupaten dengan pengawas silang dari sekolah lain. Kelas lain libur sampai hari Kamis dan pekerjaan di sekolah adalah seputar membantu menata snack, mengetik beberapa hal, main internet dan mendonwload video sampai bingung apa lagi yang harus didownload.

Pulang ke kos selalu diawali dengan acara nonton video hasil unduhan hari itu, yang kebanyakan berkisar antara music video AKB48, JKT48, beberapa lagu barat yang sedang hits, EXO dan beberapa boyband atau girlband Korea yang terlintas di kepala saya saat sedang di depan laptop. Saya tidak tahu kenapa hanya itu-itu saja yang muncul dalam pikiran saat membuka Youtube. Oh, tapi saya tidak lupa untuk mengunduh beberapa video pembelajaran (tepuk tangan).

Kamis siang saya belanja di salah satu swalayan bersama teman kerja. Menurut informasi, belanja di sana lebih murah dibanding belanja di minimarket langganan saya waktu kuliah dulu (aslinya karena waktu kuliah saya tidak bawa motor, jadi tempat yang bisa saya jangkau dari kos ya hanya minimarket itu walaupun harganya memang lebih mahal). Akhirnya saya membeli lampu baru untuk kamar kos yang selama ini nyala lampunya redup kekuningan. Sore itu saya pun keluar dari kegelapan dan menyambut cahaya baru dari sang lampu neon (tepuk tangan lagi).

Jumat pagi mendung seperti biasa, menguatkan teori saya dan Dewi bahwa Jumat di Jogja selalu saja mendung. Saya pergi ke Sleman untuk mengambil undangan pembinaan. Kali ini saya mencoba rute lain, tidak lewat ringroad tapi lurus dari Tugu lalu belok kanan. Ternyata itu jalan Magelang yang biasa saya lewati saat naik bus trans (arah TVRI-JCM-Jombor). Seperti biasa, saya janjian dengan Dewi. Usai dari kantor dinas, kami nongkrong di lapangan Denggung, ngobrol-ngobrol di bawah pohon lalu jajan. Pulang dari sana saya sudah sangat berniat untuk mampir ke Perpustakaan Kota, tapi apadaya setelah masuk ke halamannya, ternyata tempat parkir penuh dan saya diminta satpam untuk parkir di tempat lain. Malas jadinya. Masa iya saya mau ke perpustakaan tapi parkirnya di toko buku (padahal memang sebelahan, tapi kan jadinya bayar, hehehe). Akhirnya saya pun pulang dan menyimpan rencana kunjungan ke perpustakaan untuk lain waktu.

Langit memang tidak bisa ditebak.

Jumat pagi itu mendung menggantung tebal, tapi hujan tidak turun dan langit berubah cerah siang harinya. Sedangkan Sabtu pagi yang cerah ceria mendadak menjadi gelap saat siang dan hujan turun begitu lebat (yang langsung saya cemaskan adalah: jemuran di kos!). Hari itu saya lupa membawa jas hujan, tapi alkhamdulillah lagi karena saat waktunya pulang, hujan sudah reda sama sekali. Dan seperti biasa, Sabtu sore membuat jalanan lebih padat dibanding biasanya dan saya masih merasa was-was setiap kali mesti nyempil-nyempil di antara mobil-mobil di jalanan.

Ibu menelfon malam itu, mengingatkan saya untuk selalu sarapan (saya makan roti tawar setiap pagi, itu bisa dihitung sebagai sarapan, kan?).

Minggu pagi saya keluar pukul enam kurang, meluncur di jalanan yang masih basah dengan lampu jalan yang belum padam. Ada acara road show senam massal dalam rangka hari jadi Sleman dan kami diminta untuk hadir. Yang membuat saya excited bukan soal senamnya, doorprize-nya atau pak bupatinya, tapi soal lokasinya. Acara itu diadakan di Stadion Maguwoharjo. Ya, stadion sepak bola kandang PSS Sleman. Bisa dibilang ini akan jadi kali pertama saya datang ke stadion bola (kunjungan saya ke Stadion Candradimuka di kota saya tidak dihitung karena saat itu Stadion Candradimuka sedang dialihfungsikan menjadi pasar).

Lokasi sudah ramai sewaktu kami sampai di sana. Sayang saya tidak sempat masuk ke dalam stadion karena acara senam diadakan di halaman (padahal sebenarnya tidak tahu juga apakah saya akan diizinkan masuk seandainya saya mencoba). Paling tidak saya sudah melihat sebuah stadion dan saya pun masih menyimpan harap bahwa suatu hari saya akan masuk ke sana untuk menonton pertandingan (tidak peduli siapa atau klub mana yang bertanding).

Langit yang mendung sewaktu saya berangkat sempurna menjadi cerah. Saya melewatkan kebanyakan waktu menunggu doorprize dengan bermain bersama Kinan, bocah tiga tahun putri rekan kerja saya yang cantik, aktif, dan menggemaskan. Kinan bukan anak yang pemalu dan kami pun cepat akrab. Dia berceloteh macam-macam, minta digendong, minta dipangku, joged bersama saya sewaktu ada organ tunggal di panggung, main cilukba, bahkan kami juga lomba lari ke tempat parkir. Sungguh barangkali saya jadi terlihat seperti anak-anak tapi saya memang sudah mendambakan bermain dengan anak kecil sejak saya datang ke kota ini. Berinteraksi dengan mereka bisa membuat saya senang dan terhibur.

Saya sampai di kos sekitar pukul setengah sebelas. Setelah makan sarapan yang dirangkap makan siang, beres-beres kamar, membersihkan motor, menonton video sebentar, mencuci baju, saya pun keluar pada pukul dua tanpa tujuan yang pasti. Saya berniat mengecek apakah perpustakaan buka pada hari Minggu, kalau tidak maka mungkin saya akan mengunjungi toko buku. Ternyata tempat itu buka dan syukurlah tempat parkirnya tidak penuh.

Surga!

Tempat itu kecil, tapi rasanya nyaman. Ada banyak orang (sepertinya kebanyakan mahasiswa yang tengah mencari referensi untuk mengerjakan tugas dan mendadak saya merasa tua), kursi-kursi, beberapa sofa, komputer, dan tentu saja buku! Rak yang saya kunjungi tidak lain dan tidak bukan tentu saja rak golongan 800 alias buku sastra. Begitu banyak novel! Saya menemukan Tom Saywer yang memang sedang ingin saya baca lagi. Sayangnya sebelum jadi anggota saya tidak bisa meminjam buku, jadi saya akan kembali lagi secepatnya untuk mendaftar (perlu KTP, foto dan surat izin tinggal karena saya tidak ber-KTP Jogja).

Pukul setengah empat saya sudah sampai di kos lagi.

Minggu ini cukup santai dan menyenangkan. Saya belum merencanakan kapan saya akan pulang. Minggu depan Lina akan berkunjung dan saya tidak sabar untuk merampok anime dari laptopnya, membicarakan beberapa hal tentang Call Me Baby-nya EXO atau gosip-gosip Kpop terkini.

YK, 12 April 2015: 19.21’

Comments

Popular Posts