Lilin Kecil Untuknya

 “Rumput itu dipotong lagi, Bi.
Jika aku lewat di sana setelah keluar nanti, aku pasti akan mencium aroma khas rumput yang mengambang di udara. Bahkan sekarang angin bertiup cukup kencang, membuatku berharap bau rumput itu akan menyelusup masuk lewat jendela yang terbuka. Entah kenapa aku masih saja senang membicarakan rumput-rumput itu, memandanginya sambil memikirkan berbagai hal. Dan hal paling absurd yang kupikirkan kali ini adalah: kamu. Ya, kamu, Bi.
Aku tidak ingat kapan terakhir kali kau memberiku kabar, tapi aku masih ingat kata-kata terakhir yang kukatakan padamu:
‘Kalau aku boleh minta, aku hanya minta jangan membuatku merasa dekat denganmu, karena aku tidak mau lagi merasa kehilangan sesuatu yang tidak pernah jadi milikku.’
Apakah sekarang kau sedang memenuhi permintaanku?
 Mesin pemotong rumput itu sangat bising, membuatku sulit berkonsentrasi. Aku hanya menatap kosong ke depan sambil pura-pura memperhatikan. Sedang apa kamu sekarang? Memimpikan sesuatu yang aneh? Memikirkan hal-hal yang membuatmu cemas dan takut? Aku yakin kau pasti baik-baik saja.
Bukankah selama ini kau juga begitu, menghilang sekian lama lalu datang tiba-tiba. Tidak ada lagi pengharapan yang bisa kusampaikan padamu. Aku selalu percaya kau adalah seseorang yang tidak pernah bimbang untuk menentukan jalanmu sendiri. Karena itu kupikir kau akan merasa tersinggung jika aku mencemaskanmu. Lagipula tidak bayak hal yang bisa kuingat. Bahkan aku ragu apakah aku punya satu saja kenangan yang di dalamnya ada kamu? Tapi jika tidak, kenapa aku bisa ingat sekarang?
Sepasang bola mata seperti manik-manik hitam yang seolah-olah ingin membunuhku. Mata yang tidak menyipit dan tidak pernah melebar, menatap diam dan kaku. Mata yang membuatku ingin menjadi patung. Mata yang mengintimidasi, menguapkan semua kata-kata yang bisa kupikirkan, bahkan mungin membuat otakku tidak dapat bekerja dengan normal. Mata yang tidak bisa memberiku keberanian untuk marah atau benci. Aku hanya ingat itu. Masihkan sama sampai sekarang?
Matahari makin meninggi dan aku makin terganggu dengan bunyi mesin pemotong rumput yang entah bagaimana membuat suasana terasa makin panas. Aku memang suka bau rumput, tapi aku tidak suka melihatnya saat dipotong karena suara bising itu. Barangkali seperti aku mengagumimu, tapi aku benci dengan hal-hal yang menandakan kehadiranmu: tingkahmu yang menyebalkan, keinginanmu yang tidak jelas, caramu berahasia, caramu menjadi misterius dan menempatkanku di luar lingkaran hingga tidak bisa menjangkaumu.
Jadi apalagi?
Aku kesal tapi masih bisa mengingat dan memikirkan hal-hal semacam itu. Karena itulah aku kesal pada diriku sendiri. Jangan pedulikan aku. Aku tahu apa yang akan kau katakan, pasti kau bilang: sudahlah, jangan merajuk,,,,
Tidak, aku tidak akan merajuk padamu lagi
Sekarang aku akan berjalan keluar, menikmati aroma rumput di udara sambil berharap kehadirannya di paru-paruku bisa menjernihkan otakku yang sedkit aneh saat ini.”

Dia melipat kertas itu dan merutuk kenapa dia bisa menulis hal-hal bodoh yang tidak penting itu. Dan dia merasa lebih bodoh lagi karena sekarang dia duduk sendirian di dekat jendela kamar, memandang kegelapan di luar sambil memikirkan apa yang baru saja dia temukan. Bodoh. Bodoh. Buku bodoh. Dia bodoh. Tulisan bodoh.
Diliriknya lagi sebuah buku yang terbuka di sampingnya. Buku yang membuatnya menulisan kata-kata bodoh itu di kertas yang baru saja dilipatnya. Di lembar terakhir, dia melihat tulisan tangannya sendiri.
18 Maret 2010
Sudah menjadi kebiasaannya untuk menulis tanggal pada hari dia mendapatkan sebuah buku. Tapi kenapa tanggal itu yang harus tertulis di bukunya? Mau tidak mau dia diingatkan pada sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dia ingat. Dia mendesah dan mulai menekuri langit lagi.
“Kapan ulang tahunmu?”
“Kenapa tiba-tiba bertanya tentang ulang tahun?”
“Sebenarnya beberapa menit lagi aku akan berulang tahun.”
Itu dulu, tiga tahun yang lalu, pada tanggal ini.
Akhirnya dia mengalihkan perhatian pada sebuah lilin kecil yang menyala di dekatnya. Agak lama dipandanginyaapi di lilin itu. Dia meraih kertas yang sudah dilipatnya, lalu membakarnya di atas nyala lilin. Sedikit demi sedikit, menjadi abu dan dibiarkannya sisa-sisa kertas itu melayang keluar jendela. Tidak boleh ada yang membacanya. Tidak juga dia.
Dibakarnya kertas itu sampai habis, lalu dia meniup lilin itu, pelan.
Aku tidak tahu pengharapan apa yang tepat sekarang, hanya saja, selamat ulang tahun, bi.
17 Maret 2012: 16.49’
Karena aku dan kamu bukan siapa-siapa,
Hanya dua orang yang berlalu seperti musim dan tidak akan saling merindukan lagi

Comments

Popular Posts